Perjuangan Seorang Ayah di Semarang: Jualan Celana Dalam hingga Sopir Bajaj: Selalu Menunggu Hujan (Tribun Jateng)
- Februari 21, 2026
- Posted by: Adhika
- Category: Uncategorized @id
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Bagi Slamet Mulyono (45), hidup bukan tentang mimpi besar atau cita-cita tinggi.
Yang ia pikirkan hanya satu hal sederhana, keluarganya bisa makan hari ini, anak-anaknya bisa sekolah, dan malam bisa tidur tanpa dihantui pertanyaan, “Besok pinjam uang ke siapa lagi?”
Warga Ngablak Indah 2, Kecamatan Genuk, Kota Semarang itu pernah menggantungkan hidup dari berjualan pakaian dalam.
Lapaknya tidak menetap. Setiap hari ia berpindah-pindah, menyusuri kawasan pabrik, pasar, hingga pinggir jalan.
“Kalau tidak muter, dagangan tidak laku,” ucap Slamet saat ditemui Tribunjateng.com di wilayah Pedurungan, Kamis (18/2/2026).
Sebelum pandemi Covid-19 datang, usahanya cukup menjanjikan. Penghasilannya bisa menyentuh Rp 5 juta per bulan.
Uang itu ia gunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah tiga anaknya.
Namun badai pandemi mengubah segalanya. Pembeli semakin sepi. Pendapatan turun hingga separuh.
Belum selesai di situ, kehadiran pasar online membuat usaha kecil yang ia rintis semakin terpuruk.
Hari demi hari, lapak yang dulu ramai kini sering sepi. Slamet bertahan sebisanya. Untuk menutup kebutuhan, ia mulai berutang.
Awalnya hanya untuk belanja harian. Lama-kelamaan, utang menumpuk demi mempertahankan usaha agar tetap berjalan.
“Saat itu yang penting anak-anak tetap makan dan sekolah,” katanya lirih.
Ketika usaha benar-benar tak bisa diselamatkan, Slamet memilih berhenti.
Pada September 2025, ia banting setir menjadi pengemudi bajaj online.
Keputusan itu tidak lahir dari keinginan, melainkan keterpaksaan. Sebagai kepala keluarga, ia butuh penghasilan yang pasti.
Baca Selengkap nya : https://jateng.tribunnews.com/semarang/1244250/perjuangan-seorang-ayah-di-semarang-jualan-celana-dalam-hingga-sopir-bajaj-selalu-menunggu-hujan
